Geplak Waluh Getasan Menjelang Ramadhan

KabarIndonesia – Jangan pernah meremehkan buah labu. Buah yang juga dikenal dengan nama Waluh ini bisa menjadi sandaran penghasilan yang lumayan menjanjikan. Dengan didukung kreatifitas dan sedikit keuletan pemasaran, labu menjadi kudapan nikmat yang tahan lama dan bernilai ekonomis tinggi. Tidak hanya banyak dicari saat Ramadhan sebatas bahan pembuatan minuman kolak buka puasa.

Jika Anda melewati jalan raya Salatiga – Kopeng, pastilah sering menjumpai buah labu dalam ukuran besar teronggok di tepi jalan. Ketidakmampuan para petani mengolah buah labu menjadi produk makanan lain dan hanya menjualnya begitu saja membuat harga jualnya tidak tetap. Akibatnya, hasil panen buah labu seringkali hanya teronggok di tepi jalan menanti pembeli. Lebih buruk lagi, sebagian besar di antaranya hanya dijadikan makanan binatang ternak sapi.

Slamet (45) adalah warga Getasan RT 07/ 01 Kecamatan Getasan yang tergerak hatinya untuk memanfaatkan buah labu menjadi produk makanan yang lebih menarik dan bernilai ekonomis tinggi. Ayah dua anak ini mengolah labu menjadi makanan kering dalam kemasan dan menjadi makanan khas obyek wisata agro Kopeng, yakni geplak labu atau geplak waluh.

Bersama sang istri, Nanik Daryanti, Slamet mengembangkan pengolahan labu menjadi aneka kudapan ringan yang lezat. Panganan seperti geplak waluh, emping waluh, sirup waluh, bak pia waluh dan wingko waluh.

“Banyak orang yang meremehkan buah labu ini karena belum tahu bagaimana mengembangkannya. Tapi sekarang, warga di sekitar kami juga sudah banyak yang mengikuti usaha ini,” tuturnya.

Pasangan ini memulai usaha sampingannya sejak tahun 2002 lalu. Ketika itu Slamet dipercaya menjadi penyuluh lapangan dari Dinas Pertanian Kabupaten Semarang. Berbekal pengalamannya di lapangan itulah, dia memiliki pemikiran untuk mengembangkan usaha dengan memanfaatkan buah labu. Kecamatan Getasan terutama di sekitar Kopeng yang terletak di Lereng Gunung Merbabu yang berketinggian 700-1.300 meter di atas permukaan laut (dpl) sangat cocok untuk areal pertanian termasuk budidaya labu. Karenanya, dia berharap usaha diversifikasi buah labu ini dapat berkembang dan terus meningkat. Pasalnya, produksi buah labu di sana sangat tinggi. Selain itu juga terkenal sebagai penghasil produk pertanian terutama jagung, tembakau dan sayur mayur.

“Harga labu memang labil. Pada bulan Maret-April saat musim tanam, harganya bisa mencapai Rp 1.200 per kg. Namun harga labu bisa jatuh mencapai Rp 600 per kg sewaktu panen. Malahan saat-saat tertentu harganya sangat rendah, yakni Rp 150/kg,” papar Nanik.

Diakui oleh Nanik, awalnya bersama suami dia hanya sekadar mencoba memanfaatkan buah labu. Dari upaya coba-coba itulah justru memberikan penghasilan tambahan yang cukup besar.

“Kami tidak menyangka ternyata pendapatan dari usaha ini cukup lumayan, malah justru lebih besar dari pendapatan suami saya sebagai PNS,” ujar Nanik sambil terkekeh.

Dalam satu hari, Nanik mengaku mampu membuat geplak waluh sebanyak 50 kg dari bahan dasar lima sampai delapan buah waluh. Makanan kecil dari labu ini banyak dipasarkan di sekitar Kota Salatiga, Ungaran dan Semarang. Dibantu warga sekitarnya, omzet bersih pengelolaan industri geplak waluh yang dipimpin Nanik mampu mencapai Rp. 3 juta per bulan.

”Coba Mas icipi, pasti rasanya tidak kalah dengan makanan kelas nasional,” katanya. Tanpa basa-basi, saya pun mencobanya, hemmmm… empuk, gurih, manis, kenyal dalam satu bulatan geplak waluh terkunyah dalam mulutku.(*)
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=5&jd=Geplak+Waluh+Getasan+Menjelang+Ramadhan&dn=20090803222758

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s