Nikmatnya Oleh-oleh Geplak Waluh Bu Nanik

MUSIM liburan di Kopeng terasa kurang lengkap tanpa merasakan nikmatnya makan geplak waluh Bu Nanik. Geplak yang terbuat dari buah waluh kuning, kelapa, dan gula tersebut, menjadi salah satu oleh-oleh khas wisata Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

Nanik Daryanti (45), pengusaha industri rumah tangga geplak waluh menuturkan, awal mulanya pada tahun 1997, dirinya sudah mencoba-coba membuat makanan geplak dari buah waluh untuk dikonsumsi sendiri. Kemudian, melihat potensi buah waluh di daerah Kopeng yang berlimpah, pada tahun 2002, dirinya mulai membuka dan menekuni usaha geplak dengan mengambil tenaga kerja dari warga sekitar.

”Saat ini, saya mempunyai enam karyawan, dua laki-laki dan empat perempuan, yang semuanya dari warga sekitar. Tiap satu kilogram geplak, mereka diupah Rp 2.000. Setiap bulan, kami bisa memproduksi sekitar 2-3 kuintal geplak dengan keuntungan rata-rata mencapai Rp 2,5 -3,5 juta,” tutur Nanik.

Enam Jam

Lebih lanjut dia menjelaskan, adonan geplak tersebut terdiri dari buah waluh dan kelapa yang telah diparut, kemudian dicampur dengan gula, panili dan pandan. Adonan kemudian di masak dan diaduk dalam kuali besar selama kurang lebih enam jam. Setelah masak dan menjadi geplak, adonan itu didinginkan terlebih dahulu sebelum akhirnya di kemas dalam plastik. Untuk lebih menarik dalam pemasarannya, geplak dikemas dan dipacing dalam bentuk kardus besar ukuran 0,5 Kg seharga Rp 10.000, dan kardus kecil yang berisi 10 biji dengan harga Rp 3.000. Sementara ini, pemasarannya baru di sekitar Kopeng, Salatiga, Boyolali, dan Ungaran. Meskipun demikian, geplak waluh tersebut sudah dijadikan oleh-oleh di Sulawesi dan Kalimantan, bahkan sampai ke negeri tetangga seperti Malaysia, Singapore, dan Thailand, oleh para wisatawan yang datang ke Kopeng.

Selain membuat geplak waluh, Nanik mengembangkan kreativitas dan kepandaiannya dalam mengolah buah waluh. Melalui keterampilannya, waluh tersebut kini bisa diolah menjadi beberapa jenis makanan seperti emping waluh, stik waluh, wingko waluh, dodol waluh, dan kwaci waluh. Karena kepandaiannya tersebut, dirinya sering diminta untuk mengikuti pameran dan presentasi tentang pengolahan buah waluh ke dinas-dinas maupun di luar kota. Tempat usahanya sendiri juga sering dipakai beberapa mahasiswa dari berberapa perguruan tinggi untuk magang. Salah satu prestasi yang pernah diraihnya adalah juara I tingkat nasional bidang wirausaha makanan olahan dan pertanian yang diselenggarakan UI dan Citibank Group Foundation beberapa. (Leonardo Agung B-16).
http://www.suaramerdeka.com/harian/0707/09/kot30.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s