Waluh, Primadona Lereng Merbabu

Medan, isekolah.org – Tidak terlintas di benak Slamet,45,warga Desa Getasan,Jateng,jika produk makanan ringan dari buah waluh yang diproduksinya jadi primadona makanan khas Semarang.

Kesuksesannya mengolah waluh menjadi panganan, berawal dari keprihatinan Slamet terhadap melimpahnya produksi pertanian buah waluh. Di Getasan yang berada di sisi utara lereng Gunung Merbabu, buah waluh sangat melimpah. Hanya,para petani tidak dapat memaksimalkannya.

Kalaupun dijual, paling harganya tidak seberapa.Malah, saking banyaknya stok, tidak jarang para petani memanfaatkan waluh hanya untuk makanan ternak. Dari sinilah, pada 2002 lalu Slamet yang kesehariannya berprofesi sebagai penyuluh pertanian kecamatan ini memutar otak.

Lantas terbitlah ide mengolah buah waluh menjadi aneka makanan ringan,seperti geplak waluh, kue pia, sirup, stik, sampai wingko waluh. ”Untuk geplak, kami mengadopsi dari geplak khas Bantul. Namun, bahan utamanya kami ubah dari waluh. Pada awalnya, cukup kesulitan juga membuatnya.

Karena yang jadi, malah lembek dan tidak tahan lama.Namun, setelah kami lakukan berbagai percobaan,alhamdulillah kami mampu menyajikan makanan ini secara lebih baik,” tutur Slamet didampingi sang istri,Nanik,yang juga seorang pegawai negeri sipil.

Karena dari awal ingin ikut berpartisipasi meningkatkan kesejahteraan para petani, inovasi mengolah waluh ini kemudian disampaikan kepada para tetangga.Namun,responsnya kurang menggembirakan. Akhirnya, Slamet dan istrinya mengembangkan produk ini sendirian dengan menggunakan label Geplak Waluh Mbak Nanik.

Selain memasarkan di wilayah Getasan dan kawasan objek wisata Kopeng, Slamet juga mulai mempromosikan produknya melalui berbagai pameran. Jalan terjal perjalanan Slamet belum berakhir. Dalam setiap pameran yang diikuti, jarang sekali produknya dilirik pengunjung. ”Saya dapat memakluminya.

Sebab, citra waluh memang merupakan buah yang kurang enak.Namun, saya tidak menyerah.Dalam sebuah pameran di Semarang, saya lantas membuat geplak waluh yang berbentuk kerucut itu setinggi 90 cm dan saya taruh di areal halaman pameran. Tidak sia-sia,kiat tersebut mampu menarik pengunjung untuk mencicipinya.

Setelah tahu rasa dari geplak waluh, mereka mulai tertarik untuk membelinya,” kata bapak dua anak ini. Produk Slamet semakin dikenal setelah sejumlah penghargaan dari tingkat regional sampai nasional berhasil diraihnya. Untuk tingkat regional, dia pernah meraih Piala Terbaik III Penghargaan Pengembangan Keutuhan Pangan untuk Kelompok Masyarakat PKK Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2006.

Selanjutnya Juara III Lomba Komersialisasi Inovasi teknologi Perguruan Tinggi yang digelar Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Lembaga Penelitian Undip Semarang 2003. Puncaknya pada 2006 lalu, ketika Slamet dinobatkan sebagai Pengusaha Mikro Terbaik dalam ajang Citigroup Microentrepreneurship Award 2006.Dia meraih Juara I Tingkat Nasional Bidang Wirausaha Makanan Olahan dan Pertanian.

Ada cerita lucu saat Slamet mengikuti lomba di Universitas Diponegoro Semarang. Kala itu dia dibantu istrinya menyiapkan sekitar 10 kg geplak waluh untuk presentasi. Untuk keperluan makalah,Slamet meminta tolong kepada temannya untuk memotret proses pembuatan. Namun,ternyata film negatif yang dipasang di kamera tersebut hangus semua. Akhirnya harus dipotret ulang.

”Total biaya untuk lomba sekitar Rp500.000. Istri saya sempat khawatir karena uang sebanyak itu hanya digunakan untuk lomba. Kalau digunakan untuk membuat geplak, pasti untungnya lebih jelas. Saya jelaskan kepada istri,kalaupun nanti kalah,yang penting produk kami sudah dikenal orang lain,”tutur Slamet.

Ketika presentasi di depan juri,rasa minder semakin bertambah. Peserta lain sudah menggunakan LCD proyektor untuk presentasi. Sementara, Slamet masih membaca makalah secara manual. Setelah selesai sesi lomba, Slamet terkejut karena sampel produk yang dia bawa dari rumah sudah habis dimakan para pengunjung lomba.

”Tidak apa-apa. Berarti produk saya diterima masyarakat. Lah kok ternyata saya dapat juara ketiga dan mendapat uang pembinaan Rp1 juta. Jadi sudah berpromosi dapat kembalian modal pula,” ceritanya sambil tertawa. Adapun dari lomba Citigroup Microentrepreneurship Award 2006, Slamet untuk pertama kalinya dapat menikmati perjalanan menggunakan pesawat terbang dan tidur di hotel berbintang. Perhatian Pemkab Semarang terhadap perjalanan usaha Slamet juga patut diacungi jempol.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s